Green Quality Function Of Develovment(GQFD) - rizka

Teknik Industri

Ads Here

04 May 2013

Green Quality Function Of Develovment(GQFD)



TUGAS PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PRODUK
“GREEN QUALITY FUNCTION OF DEVELOVMENT (GQFD)”




OLEH:
RIZKA SAFITRA
D 221 10 253



PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013







KATA PENGANTAR
Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
       Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT,atas berkah,rahmat dan karunia-Nya lah sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini.
      Shalawat dan salam tak henti-hentinya penulis panjatkan kepada Nabi besar  Muhammad SAW sebagai suri tauladan bagi sekalian umat manusia bagi mereka yang mengetahuinya.
      Selesainya makalah ini tidak lepas dari bantuan,dorongan dan bimbingan yang penulis peroleh dari berbagai pihak,baik yang bersifat moril,maupun materil.pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tek terhingga kepada:
1.Secara khusus pernyataan terima kasih yang tek terhingga kepada kedua orang tua penulis yang senantiasa membimbing penulis dalam menyelesaikan penulian  ini,
2.Dan tak lupa pula rasa syukur karena penulis mempunyai sahabat disekelilingnya (terima kasih atas kebersamaannya)yang telah memberikan motivasi dan dorongan untuk giat dan tidak menyerah dalam menyelesaikan makalah ini.
3.Pula rasa terima kasih penulis hanturkan kepada kakak yang telah memberikan penulis sebagian ilmunya dengan hati yang ikhlas dan sabar.meskipun pada akhirnya hasil yang   penulis berikan ini tidak sesuai dengan harapan kakak,namun setidaknya penulis telah  memperlihatkan kesungguhannya dalam menyelesaikan makalah ini.

Akhirnya dengan segala kekurangan dan kerendahan hati penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.maka dari itu,saran dan kritikan yang bersifat membangun penulis sangat harapkan untuk penilisan kedepannya.semoga makalah ini dapat bermamfaat bagi penulis secara khusus dan bagi para pembaca secara umum.Amin.
       
          Wassalam,                 
Makassar,    Februari 2013


Penulis,





BAB I
PENDAHULUAN

Persaingan dunia usaha dapat dikatakan semakin kuat dan ketat sehingga menciptakan suatu kompetisi di dalam suatu industri. Banyak jenis usaha atau jenis bisnis yang muncul dan berkembang baik pada bidang manufaktur maupun sektor jasa. Setiap bidang usaha memiliki kesempatan yang luas dan terbuka untuk bersaing.
Berawal dari kondisi yang semakin kompetitif dalam dunia usaha, menyebabkan setiap usaha atau bisnis dituntut untuk bisa membuat strategi bagi bisnisnya.
Salah satu alasan utama suatu usaha atau bisnis harus memiliki strategi yaitu supaya bisnis tersebut bisa bertahan di tengah-tengah persaingan yang ada. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa setiap bisnis harus memiliki strategi sendiri. Begitu juga strategi pada bisnis yang bergerak di bidang manufaktur maupun jasa, pasti memiliki strategi yang berbeda.
Pada bisnis jasa memiliki keunikan sendiri karena pada bisnis ini perusahaan tidak menjual dalam bentuk barang, akan tetapi lebih pada pemberian pelayanan kepada konsumen. Apabila membahas lebih lanjut mengenai bisnis pada sektor jasa, maka perusahaan dituntut memiliki strategi yang berorientasi pada kepuasan pelanggan.
Untuk memenangkan persaingan, perusahaan harus mampu memberikan kepuasan kepada para pelanggannya karena suatu produk dikatakan bermutu apabila dapat memenuhi kebutuhan pelanggannya.
Oleh karena itu, pengetahuan tentang 2 kebutuhan konsumen (customer requirements) sangatlah penting (Kristiani et al., 2006).
Industri kecil di Indonesia merupakan bagian penting dari sistem perekonomian nasional, karena berperan dalam mempercepat pemerataan pertumbuhan ekonomi melalui misi penyediaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan berperan dalam peningkatan perolehan devisa serta memperkokoh struktur industri nasional.
Menurut Hanan (2003), dari segi kuantitatif, pelaku usaha di Indonesia tercacat 41,36 juta unit. Dari jumlah tersebut, sekitar 41,33 juta unit, atau 99,9% adalah usaha kecil menengah (UKM), sedangkan usaha besar hanya 0,005%.Dengan jumlah yang dominan itu, UKM mampu menyerap 99,45% dari seluruh jumlah tenaga kerja nasional (sekitar 76,97 juta orang).
Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa industri kecil dan menengah merupakan sector yang perlu mendapat prioritas utama dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Salah satu industri kecil yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah dalam pengembangannya adalah industri produk jadi rotan.
Penerimaan barang jadi rotan terutama mebel terus meningkat mencapai US$ 306 juta atau 83 % dari nilai ekspor barang jadi rotan pada tahun 1995. Peningkatan penerimaan tersebut ternyata masih belum diikuti dengan peningkatan kualitas produk. Hal itu dapat terlihat dari penurunan tingkat harga produk jadi rotan dari US$ 4563 per ton menjadi sekitar US$ 2000-3200 per ton pada tahun 1997.
Perabotan rotan masih menjadi komoditas utama kerajinan di Indonesia. Selain bahan bakunya mudah ditemukan, tekstur rotan tergolong fleksibel untuk dijadikan aneka kerajinan. Ada yang bisa diolah menjadi furniture murni, produk interior, dan aksesoris.
Rotan sudah menjadi warisan budaya masyarakat Indonesia demikian juga di daerah Domas, Menganti Gresik. Industri ini sudah menjadi warisan turun temurun, sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat setempat sehingga mampu menyerap sejumlah tenaga kerja pada wilayah tersebut.
Oleh sebab itu perlu dilakukan perbaikan kualitas produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen agar bisa bersaing dipasaran. Ulrich (2001) menyatakan bahwa produk yang sukses adalah produk yang mampu memberi manfaat sesuai dengan yang dipersepsikan oleh konsumen.
Oleh karena itu perlu mempertimbangkan kualitas produk berdasar kebutuhan dan keinginan konsumen yang sekarang mulai mengarah pada produk yang ramah lingkungan (green consumer).
Dengan mempertimbangkan adanya peningkatan kesadaran konsumen terhadap produk dan lingkungan dan kesadaran industry untuk mengembangkan dan mendesain produk yang sustanaible, maka perlu membuat suatu pendekatan untuk mendesain dan mengembangkan produk yang memiliki dampak negative terhadap lingkungan yang kecil dan produk tersebut juga harus bisa diterima oleh konsumen.
Salah satu metode merancang produk yang ramah lingkungan telah dikembangkan oleh Cristophari pada tahun 1996 (Zhang, 1999) yang merupakan pengembangan dari QFD klasik. Dalam metode ini diintegrasikan QFD klasik dengan Life Cycle Assesment (LCA). Green QFD dimana di dalamnya sudah mempertimbangkan masalah lingkungan. Namun, Green QFD ini masih belum efisien karena masih belum mempertimbangkan biaya di dalam matriks-matriksnya.
Diawali pada tahun 1998, Zhang dkk (1998) mulai melakukan pengembangan QFD sehingga mampu mengintegrasikan aspek kualitas, lingkungan, dan biaya ke dalam matriks-matriksnya. Dalam GQFD II ini diintegrasikan Voice of customer, LCA dan LCC kedalam matriks – matriks QFD.


BAB II
TINJAUAN PUTAKA

Dengan meningkatnya masalah lingkungan selama beberapa dekade terakhir, maka konsen yang diangkat dalam isu-isu yang berkembang menyatakan bahwa pembangunan industri pencemaran lingkungan harus ditangani bersama-sama dengan manajemen persedian, dengan demikian memberikan perhatian kepada Green Supply Chain Management (GSCM). 
         Salah satu pengertian dari Green Supply Chain Management (GSCM) menurut (srivastava) ialah integrasi antara pemikiran mengenai lingkungan kedalam pola Supply Chain Management termasuk diantaranya yaitu desain produk, bahan baku dan seleksi, proses manufaktur, pengiriman produk akhir ke konsumen, dan daur ulang produk setelah dimanfaatkan.
The EuP (energy-using products) adalah penggabungan antara siklus hidup produk yang berdasarkan lingkungan hidup dengan proses pengembangan produk.
Quality function deployment (QFD) adalah sebuah keseluruhan konsep yang menyediakan sarana untuk menerjemahkan kebutuhan pelanggan ke dalam persyaratan teknis yang sesuai untuk setiap tahap pengembangan produk dan produksi.
Konsep QFD merupakan suatu alat untuk menidentifikasi 4 kebutuhan pelanggan. Tujuan dari QFD adalah untuk menjamin bahwa produk atau layanan jasa yang dihasilkan dapat memenuhi tingkat kualitas yang diperlukan sehingga benar-benar dapat memuaskan pelanggan.
 Menurut Park dan Kim (1998) bahwa dengan menerapkan QFD maka perusahaan dapat meningkatkan komunikasi, melakukan pengembangan produk, dan  melakukan pengukuran atas proses dan sistem.
Integrasi LCA ke dalam matriks QFD untuk menyusun (deploy) kualitas berdasarkan keinginan konsumen, lingkungan, dan biaya keseluruhan proses pengembangan produk disebut konsep green quality deployment II dikembangkan oleh Zhang (1999) Green quality function deployment II merupakan pengembangan green QFD (GQFD) yang digunakan untuk mengevaluasi konsepkonsep produk dengan cara mengkombinasikan life cycle assessment (LCA), life cycle costing (LCC) dan QFD ke dalam matriks.
Metodologi GQFD II dilakukan secara sistematis bagi tim pengembangan produk untuk mendesain produk manufaktur yang sustainable sehingga memenuhi permintaan customer, biaya rendah dan memperhatikan lingkungan.

Adapun defenisi dari green QFD  adalah sebagai berikut:
       Green Quality function deployment (GQFD) merupakan metode untuk mengintegrasikan analisis siklus hidup dan QFD untuk mengevaluasi produk menggunakan pertimbangan lingkungan. 
Green QFD II (Green Quality Function Deployment II) merupakan suatu metode untuk mengevaluasi konsep produk dengan tidak hanya mempertimbangkan aspek kualitas tetapi juga mempertimbangkan aspek lingkungan dan biaya ke dalam  matriks-matriksnya. Sehingga nantinya dapat menghasilkan produk yang berkualitas, ramah lingkungan dan biaya rendah.

Keunggulan utama dari QFDE atau kerangka Eco QFD adalah alat atau metode yang berguna untuk mengintegrasikan masalah lingkungan dengan kualitas, biaya, dan kebutuhan pelanggan untuk meningkatkan pengembangan produk. 

            Green design
Produk ramah lingkungan menurut Redjellyfish (2003) adalah produk organik atau modifikasi genetik dari organisme yang keseluruhan produknya mampu di daur ulang, tidak melakukan test terhadap hewan dan merupakan hasil proses produksi bersih. Bilatos (1997), menyatakan bahwa green engineering adalah sebuah tingkatan sistem yang melingkupi produk dan proses desain dimana lingkungan menjadi sebagai tujuan utama bukan hanya batasan sederhana, lingkungan menjadi dasar pemikiran di semua aspek spesifikasi desain.

Life Cycle Assesment
Konsep pengembangan produk dengan mengamati aspek lingkungan (design for the
environment) memiliki konsep yang sama dengan Life Cycle Assesment. Yaitu dengan memperhatikan dampak lingkungan disemua aspek produksi. Untuk meraih sustanaibility
produk, perlu melakukan evaluasi produk yang memiliki dampak lingkungan yang kecil. LCA mengevaluasi dampak lingkungan yang berhubungan dengan aktifitas industri mulai dari material tersebut diambil dari bumi sampai material tersebut kembali ke bumi (cradle to grave).

Life Cycle Cost
Life Cycle Costing (LCC), digunakan untuk mengevaluasi biaya yang diakibatkan oleh produk selama siklus hidupnya sebagai usaha cost reduction programe dan dikaitkan dengan usaha menciptakan produk yang ramah lingkungan. Adapun biaya-biaya dalam life cycle costing adalah biaya manufakturing, biaya pengolahan limbah, biaya distribusi dan service ke pelanggan, dan biaya bagi pengguna.

            Green QFD II
Zhang (1999) yang dikutip oleh Septin (2004) mengembangkan Green QFD-II untuk mengintegrasikan LCA dan LCC, kedalam matriks-matriks QFD untuk mendeploy kualitas berdasarkan keinginan konsumen,lingkungan, dan biaya ke seluruh proses pengembangan produk. Green QFD-II ini merupakan pengembangan Green QFD (GQFD) yang digunakan untuk mengevaluasi konsep-konsepproduk dengan cara mengkombinasikan life cycle assesment (LCA), life cycle costing (LCC), dan QFD ke dalam matriks-matriks. Metodologi GQFD II dilakukan secara sistematis bagi tim pengembangan produk untuk mendesain produk manufaktur yang suistanable sehingga memenuhi permintaan customer,
biaya rendah, dan memperhatikan lingkungan. Tahap-tahap dalam Green QFD II adalah
sebagai berikut:

Tahap I : Mengidentifikasi technical response
Tujuan dari fase ini adalah untuk mengidentifikasi technical response kualitas, lingkungan,dan biaya melalui analisis yang didasarkan pada produk, permintaan- permintaan
pada technical response ini kemudian digunakan untuk mengembangkan
konsep produk baru. Pada fase ini dibuat tiga house yaitu :
House of Quality (HOQ), berisi VOC
Green House (GH), dari LCA
Cost House (CH), dari LCC

Tahap II: Memunculkan konsep produk
Tujuan dari fase ini adalah untuk mengembangkan alternatif konsep produk untuk memenuhi permintaan yang telah ditentukan dalam fase I. Konsep-konsep tersebut dan garis mendasar konsep produk di evaluasi untuk memilih konsep rancangan produk melalui Concept Comparison House (CCH).
Sustainable Minds
Untuk memperkuat keputusan pemilihan produk dilakukan dengan menganalisa dampak lingkungan dan membandingkan dampak lingkungan yang dihasilkan produk baru
dan produk eksisting. Digunakan software Sustainable Minds untuk mempermudah analisa dampak lingkungan.





BAB III
ISI
Hasil dan Diskusi
   Tahap awal proses pengumpulan data, yaitu mengumpukan data atribut produk kursi makan berdasarkan kebutuhan dan keinginan konsumen (VoC). Untuk membangkitkan VoC dilakukan melalui survey terhadap konsumen. Hasil dari proses ini dimasukan kedalam HoQ. 
      Proses selanjutnya adalah analisa lingkungan dari kursi rotan. Tujuan dari LCA adalah melakukan evaluasi atas konsep produk. Adapun ruang lingkup LCA produk ini adalah seluruh siklus hidup produk kursi makan mulai dari pengadaan material hingga sampai di tangan konsumen. Pada penelitian ini pengelompokkan dampak lingkungan didasarkan pada metode EDIP (Environment Design Industrial of Product) (Wenzel 1997). Sedangkan respon teknisnya adalah dampak lingkungan yang dihasilkan produk kursi mulai dari rawmaterial hingga disposal.
   Berdasarkan HoQ, Green house dan Cost house diketahui kebutuhan konsumen, dampak lingkungan terbesar dan proses produksi yang paling banyak membutuhkan biaya. Dari hasil analisa tersebut dan mempertimbangkan kemampuan manajemen. Bobot QEC (Quality, Environment, Cost) ditetapkan dengan menggunakan metode Analytic Hierarchy ProcessKolom kepuasan menunjukkan nilai performansi konsep produk dilihat dari perspektif kualitas, lingkungan, dan biaya. Dari hasil analisa tersebut dan mempertimbangkan kemampuan manajemen dilakukan pengembangan produk kursi makan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dan ramah lingkungan. Produk baru dan produk lama akan dibandingkan melalui CCH.
      Untuk memperkuat analisa dengan software Sustainable Minds dilakukan analisa dampak lingkungan terhadap ketiga produk. Hasil yang diperoleh adalah kursi awal menghasilkan dampak lingkungan yang besar selama siklus hidupnya, terutama pada proses pengolahan raw material serta umur produk. Dengan pergantian material dengan rotan sintetik atau loom serta rangka stainless, dampak lingkungan dapat dikurangi secara signifikan. Harga yang dihasilkan juga lebih ekonomis akibat efisiensi pergantian material, sistem rangka, ongkos anyaman dan kemudahan dalam pengiriman. Desain baru juga lebih ergonomis dan secara estetika sesuai keinginan konsumen.
`



BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1.Kesimpulan

       Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan beberapa saran dan perbaikan seperti berikut :

   1. Perlunya meningkatkan kualitas produk UKM karena pasar global sangat luas    dan membutuhkan produk kerajinan unggulan Indonesia.
   2. Trend green consumer, membuat produk harus memperhatikan aspek lingkungan mulai dari raw material hingga disposal (cradle to grave).
  3. Kursi rotan yang bahan baku berasal dari alam jika tidak disertai dengan komitmen terhadap lingkungan akan menimbulkan dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia dan lingkungan    hidup.
      Diantaranya adalah ;
      a) Kerusakan ekosistem hutan rotan akibat eksplorasi material rotan secara berlebihan.
     b) Pengolahan rotan menjadi rotan siap pakai saat ini dilakukan melalui proses sederhana tanpa    campur tangan teknologi sehingga meningkatkan biaya produksi, dan mengakibatkan dampak melalui udara, air, tanah dan terutama berdampak bagi kesehatan manusia.
      c) Pemakaian zat – zat kimia selama proses pengolahan rotan, pengawetan hingga finishing.
      d) Gangguan jamur dan serangga membuat rotan tidak dapat bertahan lama.

  4. Lokasi sumber daya rotan yang jauh dari sentra kerajinan dan pengrajin anyaman mengakibatkan kesulitan pengolahan rotan menjadi bahan jadi dan tingginya harga bahan baku rotan.
  5. Perlunya pengembangan produk UKM rotan dan mencari alternatif material yang
ramah lingkungan.
  6. Kebutuhan konsumen kursi makan memprioritaskan kualitas kursi, lingkungan dan yang terakhir faktor biaya. Menandakan bahwa konsumen saat ini bukan hanya mempertimbangkan harga tetapi juga mendahulukan kualitas dan lingkungan.
  7. Pengembangan produk kursi makan, dapat mereduksi dampak lingkungan, memenuhi kebutuhan konsumen dan mereduksi cost. Melalui desain yang telah dikembangkan dianalisa dampak lingkungan dan biaya produk tersebut dan dibandingkan dengan analisa produk awal. Dari analisa tersebut diketahui bahwa produk yang baru mampu memnuhi keinginan konsumen, mereduksi cost dan dampak lingkungan.
8. Limbah yang dihasilkan oleh produksi kursi rotan awal dapat ditanggulangi  dengan penggantian material. Semua dampak lingkungan memiliki    strategi penanggulangan.


IV.2. SARAN
Penelitian selanjutnya hendaknya dapat membandingkan beberapa alternatif kerajinan rotan tidak terbatas pada penambahan bahan baku lain dalam komposisi kerajinan kursi rotan.
Penelitian selanjutnya hendaknya diperbanyak penelitian terhadap industri kerajinan kursi rotan untuk mengembangkan industri tersebut terutama UKM sehingga dapat bersaing di pasar lokal maupun global.





DAFTAR PUSTAKA

  • Akao, Y., 1991. Quality Function Deployment: Integrating Customer Requirements Into Product Design, Productivity Press. Portland, Oregon.
  • Billatos, S. B., and N. A. Bassaly, 1997. Green Technology and Design for the Environment, Taylor & Francis, Ltd.
  • Burall, P., 1991. Green Design, The Design Council of United Kingdom.
  • Cohen, L., 1995. Quality Function Deployment : how to make QFD work for you, Addison – Wisley Publishing Company.
  • Curran, M. A., 1996. Environmental Life-Cycle Assessment, Mc Graw Hill.
  • Dong, C., C. Zhang, and B. Wang, 2001. “Integration of green quality function deployment and fuzzy multiattribute utility thoery-based cost estimation for environmentally conscious product development”, International Journal of Environmentally Conscious Design & Manufacturing.
  •  Jasni, D. Martono dan Nana SuprianaI. 1999 Sari Hasil Penelitian Rotan, Dep.Kehutanan.
  • Juran, J.M., 1992, Juran on Quality by Design, The Free Press, New York.
  • Puji Astuti, Septin, 2004, Evaluasi Konsep Produk dengan Pendekatan Green QFD II, Program Pascasarjana, Teknik Industri -ITS
  • Saaty, T. L., 1993. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin, PT Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta.
  • Ulrich, K. T., and S. D. Eppinger, 2001. Perancangan dan Pengembangan Produk, Salemba Teknika, Jakarta
  • Wenzel, H., M. Hauschild, and L. Alting, 1997. Environmental Assessment of Products, Volume 1 Methodology, Tools and Case Studies in Product Development, Chapman & Hall
  • Zhang, Y., H. P., Wang, and C. Zhang, 1998. “Product Concept Evaluating Using GQFDII and AHP”, International Journal of Environmentally Concious Design & manufacturing, Vol. 7, No 3.
  • Zhang, Y., H.P, Wang, and C. Zhang, 1999. “Green QFD – II: life cycle approach for environmentally conscious manufacturing by integrating LCA and LCC into QFD matrices”, International Journal Production Research, Vol. 37, pp 1075 –1091.



Post a Comment